I LOVE TRAVELING

I AM

image
Hi,

About Me

Since 2008, implementing Citizen Journalism by advocating environmental issues, conservation and development of cultural identities with communities in villages and living near forests; advocating education, awareness and life skills; coordinating and facilitating national and local media, civil organisations, NGOs and local governments.Possessing strong journalistic skills, organizational, facilitation, engagement, management and consultant media of media.

A 14-year experience as a journalist, with the last four years involved in designing communication programs for non-government organizations (NGOs), government as well as for the private sectors in West Kalimantan and Sarawak, Malaysia


Education
University of Law

Bachelor of law

Courses of Awesomeness

Journalism and Communications

Study of Amusement

Arts and TIE


Experience
Communications

Counsultant

Project

Grafic design and social media

Developer

Web,blog, and app Design


My Skills
Journalism
Communications
Project Branding
Writing

5

Awards Won

1168

Happy Customers

148

Projects Done

1564

Article Made

WHAT CAN I DO

Digital Writing

Menulis content webisite untuk organisasi, perusahaan, dalam bentuk berita dan iklan

Website Design

Berpengalaman membuat design personal website, organisasi atau perusahaan

Graphic Design

Membuat berbagai design grafis untuk kebutuhan sosial media, website, dan print

Journalism

Berpengalaman lebih dari 14 tahun sebagai jurnalis dalam dan luar negeri

Photographic

Berpengalaman membuat photo or video report, kampanye, profie company and product

Communications

Lebih dari 6 tahun bekerja sebagai communication specilist di perusahaan maupun NGO

My World

Digital Card Design-Gawai Dayak 2018

Digital card design -Gawai Dayak 2018
Digital card design ucapan Selamat Hari Gawai ini dipublikasikan oleh www.bizreview.id

Alexander Mering – die Stimme der Dayak

Friederike Nehrkorn saat  bersama saya bertemu anak-anak muda Loncek 2012.  
Von Friederike Nehrkorn

Ich bin in Pontianak mit Alexander Mering verabredet. Als Treffpunkt dient eine kleine Kunstgalerie am Rande der Stadt. Ihr Besitzer heißt Zul; er hat an der Kunsthochschule von Yogyakarta studiert und zählt heute zu den bedeutendsten Malern an der gesamten Westküste Kalimantans. Der zierliche, zurückhaltende Mann mit den lächelnden Augen, engagiert sich sehr für sein Land, er nutzt seine Kunst, um auf den fragilen Reichtum seiner Heimatinsel hinzuweisen.

Ölbilder mit Motiven wie Orang-Utans, Regenwaldlandschaften, Nashornvögeln, die den Dayak heilig sind, sowie den kostbaren Drachenfischen zieren die Wände seines Ateliers. Während ich noch vor einem Drachenfischgemälde stehe, kommt mit großen Schritten ein Mann auf mich zu: lange Koteletten, tiefschwarzer Pferdeschwanz und eine dunkle Sonnenbrille, die er sich lässig auf die Stirn schiebt, als er mir die Hand entgegen streckt: „Ich bin Alexander Mering. Aber bitte nenne mich Mering. Das ist mein Dayak-Name.“ Ich schüttele die Hand des selbstbewussten Mannes und finde ihn sofort sympathisch.

Mering ist Dayak des Stammes Iban. Er hat Journalistik studiert und schreibt für diverse Online-Zeitschriften wie auch Blogs und Printausgaben. Der engagierte Reporter ist ein wahres Energiebündel, der diverse Projekte gleichzeitig zu betreuen scheint. Das größte Anliegen des 40-Jährigen aber ist es, mittels seines Jobs auf Missstände und Ungerechtigkeiten in seinem Land hinzuweisen.

Als Dayak setzt er sich insbesondere für die Menschenrechte der indigenen Völker Borneos ein, die von der indonesischen Regierung im Stich gelassen werden. Eines der Hauptprobleme: Landraub aufgrund der stetig wachsenden Palmölplantagen. „Die Dayak haben einfach keine Lobby auf Borneo. Überall wird den Indigenen das Land genommen und in Monokulturen umgewandelt. Doch wir Dayak brauchen den Regenwald, das ist unser Leben und die Wiege unserer Kultur.

Desto mehr wir unsere Heimat – den Tropenwald – verlieren, desto mehr verlieren wir auch uns selber. Das können wir doch nicht zulassen!“ Der unbequeme Journalist, der unter den Dayak Kalimantan Barats ein hohes Ansehen genießt, ist der Obrigkeit der Provinz ein Dorn im Auge.

Doch Einschüchterungsversuche und sogar Morddrohungen können Mering nicht davon abhalten, sich auch weiter für die Rechte der Urbevölkerung zu engagieren. „Es gibt da ein ganz spannendes Projekt, das ich dir gerne zeigen möchte. Ein Dorf, das dagegen kämpft, von der angrenzenden Palmölplantage verschluckt zu werden. Die Idee ist super.

Das solltest du mit eigenen Augen sehen!“ Dass lasse ich mir nicht zweimal sagen. Wir verabreden uns für den nächsten Tag und ich bin schon gespannt, was mich in dem abgelegenen Dorf der Dayak erwarten wird.  Readmore

Loncek Baguas Sebuah Film Dokumenter

Klick here for watching
Film dokumenter karya saya tentang inisiatif Orang Muda Putus Sekolah (OMPS) di Kampung Loncek, Desa Teluk Bakung yang juga perambah hutan. Gerakan anak muda ini kemudian menginspirasi ratusan petani lain di kampung tersebut termasuk orang-orang tua mereka, untuk melakukan gerakan yang sama, yaitu membudidayakan karet secara kreatif yang difasilitasi oleh YPPN bekerjasama dengan Kemintraan  dalam program PNPM Peduli di Provinsi Kalimantan Barat. Cerita ini kemudian mendapat liputan luas dari media arus utama dan bahkan dua sutradara peraih Oskar dari Hollywood datang ke Kampung Loncek untuk bertemu anak-anak muda tersebut.

Baca berita terkait:

Banner Hutan Adat Moa

Desing by Mering
Banner ini digunakan untuk menyambut penyerahan hutan adat Moa, Kabupaten Sigi, Provinsi sulawesi Tengah yang diinisiasi oleh Karsa institute melalui Pogram Peduli yang bekerjasama dengan Kemitraan Jakarta. Banner ini juga dipublikasikan pertama kali di situs Peduli Adat.

Pemred KBR Citra Dyah Prastuti Dapat Pogau Award

Photo Citra Dyah Prastuti. facebook.com
TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan Pantau memberikan Oktovianus Pogau Award kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi, toleransi, dan hak asasi manusia (HAM).

“Citra Dyah Prastuti mempertahankan tradisi KBR dengan segala kesulitannya,” kata Andreas Harsono dari Yayasan Pantau, Rabu, 31 Januari 2018.
Citra memulai karier sebagai wartawan KBR pada 2002, setahun sesudah lulus dari Universitas Indonesia. Dia meliput beberapa daerah konflik, seperti Ambon dan Aceh, ketika operasi militer dilancarkan dari Jakarta pada 2003.

Yayasan Pantau memuji komitmen Citra yang terlibat dalam banyaknya peliputan atau peristiwa pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Peliputan itu, dari upaya menemukan kuburan massal pembantaian 1965 sampai pembunuhan pengacara Munir Thalib, dari diskriminasi terhadap Ahmadiyah sampai penutupan gereja-gereja.


Selain itu, prestasi Citra lain yang diganjar penghargaan ini adalah keterlibatannya menyunting program Saga–sebuah program feature radio KBR yang banyak dapat penghargaan. Pada 2012, Citra membuat liputan soal anak-anak Timor Timur yang diambil berbagai pihak dari Indonesia—militer, sipil, organisasi Islam maupun Kristen—dan dibawa ke Indonesia.

KBR adalah media radio berita yang diproduksi PT Media Lintas Inti Nusantara. Media ini  menyediakan berita audio sejak 1999 dan dipakai sekitar 600 radio berbagai kota di Indonesia. KBR bisa didengar lewat Internet di website KBR.ID juga lewat aplikasi telepon genggam.

Juri dari penghargaan ini adalah Alexander Mering (Gerakan Jurnalisme Kampung di Kalimantan Barat, Pontianak), Coen Husain Pontoh (Indo Progress, New York), Made Ali (Jikalahari, Pekanbaru), Yuliana Lantipo (Jubi, Jayapura), dan Andreas Harsono. Penghargaan Oktovianus Pogau diberikan untuk merangsang diskusi soal keberanian dalam jurnalisme.

Elisa Sekenyap, sahabat Oktovianus Pogau, dari Suara Papua, mengatakan, “Citra mewakili cita-cita sahabat saya, Oktovianus, yang telah pergi. Namun keberanian dan keinginannya untuk menyuguhkan fakta di Papua Barat, salah satu daerah paling direndahkan di Indonesia, masih diteruskan. Ia bukan saja diteruskan di kalangan wartawan Papua, tetapi juga Citra Prastuti di Jakarta.”

Oktovianus Pogau, lahir di Sugapa, pada 5 Agustus 1992 dan meninggal di usia 23 tahun, pada 31 Januari 2016 di Jayapura. Selama hidupnya, dia banyak meliput pelanggaran HAM di Papua.

Tautan terkait untuk berita ini:
Dosen Universitas Bakrie Raih Penghargaan Pogau Award 

 

Novel Perempuan di Ujung TembawangCover

Cover depan novel

Saya bangga bisa terlibat dalam proses penulisan, menyediakan data, mengedit hingga mempromosikan novel ini sebagai sebuah gerakan untuk membantu pedidikan anak-anak SAD dampingan SSS Pundi Sumatera di 3 kabupaten di Sumatera saat ini. Apalagi niat awal dari penulis buku ini, yang kemudian direstui penerbitnya yaitu TOP Indonesia, bahwa sebagian dari penjualan buku setebal 500 hlm ini kelak akan didonasikan untuk itu. 

Buku yang mengisahkan perjuangan salah seorang perempuan Suku Anak Dalam (SAD) di Sumatera ini ditulis oleh Paul Tao Widodo dari Kalimantan Barat, yang pada saat menuliskan novel ini bahkan belum pernah menginjakankakinya ke tanah Sumatera. Paul baru menginjakan kaki pertama ke Sumatera saat lounching Novel ini di Jambi. Dia mengaku terinspirasi dari sajak saya yang berjudul Kunang-kunang Hutan. Baca selengkapnya
 

Pantau Foundation introduced Oktovianus Pogau Award in Indonesia

Oktovianus Pogau Photo: doc Pantau
JAKARTA, 18 February 2017 – Jakarta has a new award on courage in journalism in honor of the West Papuan editor, Oktovianus Pogau, who passed away last year. It was awarded for the first time to reporter Febriana Firdaus, who had extensively covered human rights abuses in Indonesia, the Pantau Foundation said.
“We want to honor our colleague, Oktovianus Pogau, a smart and courageous journalist, who edited Suara Papua news and highlighted human rights reporting. He passed away at a very young age, just 23 years old. We want to honor his legacy by establishing this Oktovianus Pogau award,” said Imam Shofwan, the chairman of the Pantau Foundation, in a speech to a small gathering at his office on February 13. Read more

The Village journalist and Mother

Mother called me early in the morning from the village.

“Son, what did you do to appear on TV?”
I was surprised. Why did mother’s voice sound so different? She spoke cautiously with aslow voice. I was not up yet, still dazed having just roused from sleep.

I breathed slightly, trying to recall events from the past few days. Rippling water sounds from the Aquaponic in the garden steadily woke me.

It was a TV show, where my name was amongst 35 candidates for Liputan 6 Awards SCTV 2015.*

Hmm, maybe because mother usually sees negative news and corruptors on TV compared to good news. I told her that she had just heard happy news.

After a lengthy explanation, bla...bla...bla…, she finally understood. She had heard gossip from her neighbours about her son appearing on TV. Goodness...

“That’s good son…,” she said, proudly. She asked about her grandchildren, my two children. As usual, she ended the conversation with advice so that I would be patient, thankful and always say my prayers.

After hanging up the telephone, I imagined mother’s smile. She would look much older now, after having had a slight stroke and it was difficult for her to walk properly.

Fortunately, father was still well enough to care for her. As the eldest living uncertainly? in the city, I had been unable to visit her often. I do not recall ever making her proud, like those Indonesian sinetron ͒ , although as her son I would want to be filial and care for her.

My thoughts strayed in the living room, pondering over whether I was qualified enough to be chosen as a candidate for an award from one of the oldest TV stations in Indonesia?

Since a year ago, I had travelled to villages and rural areas of Indonesia and there were many champions of life* I met on the journey. There were stories that were as heroic as those portrayed in the best-selling novel Laskar Pelangi by Andrea Hirata.

There were many locals who inspired and life warriors who strove to fight tirelessly against biased development in communities and local villages. One NGO facilitator who even forego to bathe for days, working tirelessly in a barren and dangerous village; a youth who worked polishing precious stones and contributed half of his earnings to his mosque’s youth movement and in Karang Taruna, a young boy had sworn he would build a village office better than the one he had been thrown out from because of his muddied feet (Today, he is an exemplary head village in Banten).

These are the stories not covered by the media. Yet, there are many qualified warriors that deserve to be chosen for the award, and I am a nobody compared to them.

My work has not finished, like the extract from Chairil Anwar’s poem, “belum berarti apa-apa”. (does not have any meaning yet)

I had set up Tribune Institute with several friends, including H. Nur Iskandar so that more youths in West Kalimantan could write and use information wisely. We believed that quality information could contribute towards a better community livelihood in West Kalimantan.

Later in 2011, I established Mata Enggang with my friends, Budi Miank, Endi Djenggoet, Bas Andreas G, because I did not wish to see my old dreams die. We started work on structural journalism in villages so that the community would not be left out due to insufficient information.

Hence, like my mother, traumatised by seeing daily negative occurrences in the media we often forget that there are many good experiences in our country. It is akin to those grandfathers we see walking dizzily after learning of a variety of illnesses.

As such, the award event by this private TV station, is one of a positive. This reminded me of a writing on a T-shirt worn by a friend: “Inilah Negeri Paling Bodoh yang aku Bela*”.

Anyways, this is part of a work and devotion that is still unfinished; let nature runs its course with the blessings of God, definitely.

This is the list of chosen candidates for the Liputan 6 Award, SCTV:

Bayang Tembawang: Kumpulan Puisi karya 50 penulis Kalimantan Barat

Cover Buku
Saya menjadi kurator untuk buku ini bersama pak Mus dari balai bahasa Kalimantan Barat. Dalam pengantar buku saya juga menuliskan kalimat berikut: "Bukankah puisi-puisi juga seperti pohon yang ditanam di tembawang? Karena setiap pohon niscaya akan tumbuh dan memiliki takdirnya sendiri, demikian juga setiap karya puisi yang terlahir ke dunia ini melalui tangan-tangan penyair, entah di masa lalu, esok atau pun hari ini."  Baca selengkapnya

Start Work With Me

Contact Us
ALEXANDER MERING
WA: +62 7878-622-789
Jakarta, Indonesia