-->

I LOVE TRAVELING

I AM

image
Hi,

About Me

Since 2008, implementing Citizen Journalism by advocating environmental issues, conservation and development of cultural identities with communities in villages and living near forests; advocating education, awareness and life skills; coordinating and facilitating national and local media, civil organisations, NGOs and local governments.Possessing strong journalistic skills, organizational, facilitation, engagement, management and consultant media of media.

A 14-year experience as a journalist, with the last four years involved in designing communication programs for non-government organizations (NGOs), government as well as for the private sectors in West Kalimantan and Sarawak, Malaysia


Education
University of Law

Bachelor of law

Courses of Awesomeness

Journalism and Communications

Study of Amusement

Arts and TIE


Experience
Communications

Counsultant

Project

Grafic design and social media

Developer

Web,blog, and app Design


Skill
Writing
Communications
Project Branding
Web & Apps Depveloping

5

Awards Won

1168

Happy Customers

148

Projects Done

1564

Article Made

WHAT CAN I DO

Digital Writing

Menulis content webisite untuk organisasi, perusahaan, dalam bentuk berita dan iklan

Website Design

Berpengalaman membuat design personal website, organisasi atau perusahaan

Graphic Design

Membuat berbagai design grafis untuk kebutuhan sosial media, website, dan print

Journalism

Berpengalaman lebih dari 14 tahun sebagai jurnalis dalam dan luar negeri

Photographic

Berpengalaman membuat photo or video report, kampanye, profie company and product

Communications

Lebih dari 6 tahun bekerja sebagai communication specilist di perusahaan maupun NGO

My World

Buku BRWA 9 Potret Wilayah Adat


Dalam proses registrasi dan verifikasi wilayah adat, BRWA melakukan kajian dan dokumentasi beberapa aspek penting yang menunjukkan keberadaan masyarakat adat dan wilayah adatnya, diantaranya sejarah, demografi dan geografi, sistem tenurial dan pengelolaan wilayah adat, kelembagaan dan hukum adat, serta keanekaragaman hayati. Data tabular, spasial dan narasi inilah yang ditulis kembali dan disajikan menjadi buku “9 POTRET WILAYAH ADAT”.

Buku ini merupakan Seri Pertama narasi profil wilayah adat yang disajikan berdasarkan dokumen hasil verifikasi BRWA. Sembilan profil wilayah adat dalam buku ini meliputi wilayah adat Ammatoa Kajang (Kabupaten Bulukumba), Ngata Ona (Kabupaten Sigi), Huta Sihaporas (Kabupaten Simalungun), Wewengkon Pasir Eurih (Kabupaten Lebak), Ngata Lindu (Kabupaten Sigi), Mukim Kunyit (Kabupaten Pidie), Ngata Marena (Kabupaten Enrekang), Kenegerian Gajah Bertalut (Kabupaten Kampar), Gelarang Colol (Kabupaten Manggarai Timur). Beberapa wilayah adat tersebut sudah mendapat pengakuan dari pemerintah daerah dan juga pengakuan hutan adat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sebagian yang lain masih dalam proses rekognisi atas wilayah adat dan hutan adatnya.

Buku ini dapat diunduh di link ini

Selamat membaca !

Buku KosaKata Bercerita

Komunitas Sarang Kata (Kosakata) yang bermarkas di kota Pontianak telah menerbitkan buku berjudul KOSAKATA BERCERITA. Buku ini tak hanya ditulis oleh para anak-anak muda yang terlibat dalam pengembangan program literasi, tetapi juga digawangi oleh para aktivis dan wartawan senior Kalimantan Barat.

Meski hanya seorang blogger yang luntang lantung sana sini, saya pun diajak terlibat dalam project KosaKata, dan menyumbangkan salah satu karya saya yang berjudul Kutunggu Kamu di Santa Cruz,  yaitu tulisan perjalanan saya dengan latar belakang sebuah pulau kecil di Philipina Selatan tahun 2009, tepatnya pulau bernama Great Santa Cruz Island yang berada di laut, terjepit di antara pulau Zamboanga dan Balisan, yaitu markas tempat berkumpulnya para pengikut Abu Sayyaf.

Seluruh hasil penjualan buku kata Budi Miank, salah seorang punggawa KosaKata akan digunakan untuk program literasi secara berkelanjutan bagi kaum muda di Kalimantan Barat. 

Apa Kata Kardinal Sastra Indonesia Tentang Alexander Mering






Apa kata kardinal sastra Indonesia, Korrie Layun Rampan, tentang Alexander Mering?
Alexander Mering merupakan sastrawan Dayak yang penuh dengan kejutan. Topik karyanya beragam, mulai dari warna lokal (Dayak) hingga yang abstrak, sarat dengan simbol. 


Untuk manusia rata-rata, tidak mudah memahami karya pria yang gemar memelihara rambut panjang ini sebab jangkauan imaginasinya mencapai langit ketujuh. Dapatlah kiranya ditamsilkan bahwa karya-karyanya penuh dengan wahyu.


Cerpen “Negeri Mimpi” misalnya, yang dimuat dalam sebuah majalah sastra di Sarawak, memperlihatkan ciri khas itu. Mengajak pembacanya menafsirkan di mana negeri yang dimaksudkan, siapa warga, serta apa yang telah, sedang, dan akan terjadi di negeri tersebut. Mungkinkah itu Negeri Dayak?




Digital Card Design-Gawai Dayak 2018

Digital card design -Gawai Dayak 2018
Digital card design ucapan Selamat Hari Gawai ini dipublikasikan oleh www.bizreview.id

Alexander Mering – die Stimme der Dayak

Friederike Nehrkorn saat  bersama saya bertemu anak-anak muda Loncek 2012.  
Von Friederike Nehrkorn

Ich bin in Pontianak mit Alexander Mering verabredet. Als Treffpunkt dient eine kleine Kunstgalerie am Rande der Stadt. Ihr Besitzer heißt Zul; er hat an der Kunsthochschule von Yogyakarta studiert und zählt heute zu den bedeutendsten Malern an der gesamten Westküste Kalimantans. Der zierliche, zurückhaltende Mann mit den lächelnden Augen, engagiert sich sehr für sein Land, er nutzt seine Kunst, um auf den fragilen Reichtum seiner Heimatinsel hinzuweisen.

Ölbilder mit Motiven wie Orang-Utans, Regenwaldlandschaften, Nashornvögeln, die den Dayak heilig sind, sowie den kostbaren Drachenfischen zieren die Wände seines Ateliers. Während ich noch vor einem Drachenfischgemälde stehe, kommt mit großen Schritten ein Mann auf mich zu: lange Koteletten, tiefschwarzer Pferdeschwanz und eine dunkle Sonnenbrille, die er sich lässig auf die Stirn schiebt, als er mir die Hand entgegen streckt: „Ich bin Alexander Mering. Aber bitte nenne mich Mering. Das ist mein Dayak-Name.“ Ich schüttele die Hand des selbstbewussten Mannes und finde ihn sofort sympathisch.

Mering ist Dayak des Stammes Iban. Er hat Journalistik studiert und schreibt für diverse Online-Zeitschriften wie auch Blogs und Printausgaben. Der engagierte Reporter ist ein wahres Energiebündel, der diverse Projekte gleichzeitig zu betreuen scheint. Das größte Anliegen des 40-Jährigen aber ist es, mittels seines Jobs auf Missstände und Ungerechtigkeiten in seinem Land hinzuweisen.

Als Dayak setzt er sich insbesondere für die Menschenrechte der indigenen Völker Borneos ein, die von der indonesischen Regierung im Stich gelassen werden. Eines der Hauptprobleme: Landraub aufgrund der stetig wachsenden Palmölplantagen. „Die Dayak haben einfach keine Lobby auf Borneo. Überall wird den Indigenen das Land genommen und in Monokulturen umgewandelt. Doch wir Dayak brauchen den Regenwald, das ist unser Leben und die Wiege unserer Kultur.

Desto mehr wir unsere Heimat – den Tropenwald – verlieren, desto mehr verlieren wir auch uns selber. Das können wir doch nicht zulassen!“ Der unbequeme Journalist, der unter den Dayak Kalimantan Barats ein hohes Ansehen genießt, ist der Obrigkeit der Provinz ein Dorn im Auge.

Doch Einschüchterungsversuche und sogar Morddrohungen können Mering nicht davon abhalten, sich auch weiter für die Rechte der Urbevölkerung zu engagieren. „Es gibt da ein ganz spannendes Projekt, das ich dir gerne zeigen möchte. Ein Dorf, das dagegen kämpft, von der angrenzenden Palmölplantage verschluckt zu werden. Die Idee ist super.

Das solltest du mit eigenen Augen sehen!“ Dass lasse ich mir nicht zweimal sagen. Wir verabreden uns für den nächsten Tag und ich bin schon gespannt, was mich in dem abgelegenen Dorf der Dayak erwarten wird.  Readmore

Loncek Baguas Sebuah Film Dokumenter

Klick here for watching
Film dokumenter karya saya tentang inisiatif Orang Muda Putus Sekolah (OMPS) di Kampung Loncek, Desa Teluk Bakung yang juga perambah hutan. Gerakan anak muda ini kemudian menginspirasi ratusan petani lain di kampung tersebut termasuk orang-orang tua mereka, untuk melakukan gerakan yang sama, yaitu membudidayakan karet secara kreatif yang difasilitasi oleh YPPN bekerjasama dengan Kemintraan  dalam program PNPM Peduli di Provinsi Kalimantan Barat. Cerita ini kemudian mendapat liputan luas dari media arus utama dan bahkan dua sutradara peraih Oskar dari Hollywood datang ke Kampung Loncek untuk bertemu anak-anak muda tersebut.

Baca berita terkait:

Banner Hutan Adat Moa

Desing by Mering
Banner ini digunakan untuk menyambut penyerahan hutan adat Moa, Kabupaten Sigi, Provinsi sulawesi Tengah yang diinisiasi oleh Karsa institute melalui Pogram Peduli yang bekerjasama dengan Kemitraan Jakarta. Banner ini juga dipublikasikan pertama kali di situs Peduli Adat.

Pemred KBR Citra Dyah Prastuti Dapat Pogau Award

Photo Citra Dyah Prastuti. facebook.com
TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan Pantau memberikan Oktovianus Pogau Award kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi, toleransi, dan hak asasi manusia (HAM).

“Citra Dyah Prastuti mempertahankan tradisi KBR dengan segala kesulitannya,” kata Andreas Harsono dari Yayasan Pantau, Rabu, 31 Januari 2018.
Citra memulai karier sebagai wartawan KBR pada 2002, setahun sesudah lulus dari Universitas Indonesia. Dia meliput beberapa daerah konflik, seperti Ambon dan Aceh, ketika operasi militer dilancarkan dari Jakarta pada 2003.

Yayasan Pantau memuji komitmen Citra yang terlibat dalam banyaknya peliputan atau peristiwa pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Peliputan itu, dari upaya menemukan kuburan massal pembantaian 1965 sampai pembunuhan pengacara Munir Thalib, dari diskriminasi terhadap Ahmadiyah sampai penutupan gereja-gereja.


Selain itu, prestasi Citra lain yang diganjar penghargaan ini adalah keterlibatannya menyunting program Saga–sebuah program feature radio KBR yang banyak dapat penghargaan. Pada 2012, Citra membuat liputan soal anak-anak Timor Timur yang diambil berbagai pihak dari Indonesia—militer, sipil, organisasi Islam maupun Kristen—dan dibawa ke Indonesia.

KBR adalah media radio berita yang diproduksi PT Media Lintas Inti Nusantara. Media ini  menyediakan berita audio sejak 1999 dan dipakai sekitar 600 radio berbagai kota di Indonesia. KBR bisa didengar lewat Internet di website KBR.ID juga lewat aplikasi telepon genggam.

Juri dari penghargaan ini adalah Alexander Mering (Gerakan Jurnalisme Kampung di Kalimantan Barat, Pontianak), Coen Husain Pontoh (Indo Progress, New York), Made Ali (Jikalahari, Pekanbaru), Yuliana Lantipo (Jubi, Jayapura), dan Andreas Harsono. Penghargaan Oktovianus Pogau diberikan untuk merangsang diskusi soal keberanian dalam jurnalisme.

Elisa Sekenyap, sahabat Oktovianus Pogau, dari Suara Papua, mengatakan, “Citra mewakili cita-cita sahabat saya, Oktovianus, yang telah pergi. Namun keberanian dan keinginannya untuk menyuguhkan fakta di Papua Barat, salah satu daerah paling direndahkan di Indonesia, masih diteruskan. Ia bukan saja diteruskan di kalangan wartawan Papua, tetapi juga Citra Prastuti di Jakarta.”

Oktovianus Pogau, lahir di Sugapa, pada 5 Agustus 1992 dan meninggal di usia 23 tahun, pada 31 Januari 2016 di Jayapura. Selama hidupnya, dia banyak meliput pelanggaran HAM di Papua.

Tautan terkait untuk berita ini:
Dosen Universitas Bakrie Raih Penghargaan Pogau Award 

 

Novel Perempuan di Ujung TembawangCover

Cover depan novel

Saya bangga bisa terlibat dalam proses penulisan, menyediakan data, mengedit hingga mempromosikan novel ini sebagai sebuah gerakan untuk membantu pedidikan anak-anak SAD dampingan SSS Pundi Sumatera di 3 kabupaten di Sumatera saat ini. Apalagi niat awal dari penulis buku ini, yang kemudian direstui penerbitnya yaitu TOP Indonesia, bahwa sebagian dari penjualan buku setebal 500 hlm ini kelak akan didonasikan untuk itu. 

Buku yang mengisahkan perjuangan salah seorang perempuan Suku Anak Dalam (SAD) di Sumatera ini ditulis oleh Paul Tao Widodo dari Kalimantan Barat, yang pada saat menuliskan novel ini bahkan belum pernah menginjakankakinya ke tanah Sumatera. Paul baru menginjakan kaki pertama ke Sumatera saat lounching Novel ini di Jambi. Dia mengaku terinspirasi dari sajak saya yang berjudul Kunang-kunang Hutan. Baca selengkapnya
 

Start Work With Me

Contact Us
ALEXANDER MERING
WA: +62 7878-622-789
Jakarta, Indonesia