Alexander Mering portfolio

Since I’m a journalist, I write. Writing is a way to build an epigraphy, as a reminder. A way to be released from historical suspicion. A balance for spiritual life and memorizing the upcoming. A kind of priceless ritual and also an effort to be truthful, faithful, and altruistic. By writing, I wish I could escape from the Milky Way’s trap.....

  • Key Qualifications

    A 14-year experience as a journalist, with the last four years involved in designing communication programs for NGOs, government as well as for the private sectors...

  • High Performing

    Possessing strong journalistic skills, Research, organizational, facilitation, engagement, reporting, blogging, management and consultant media of media..

  • Fellow and Awards

    The USA fellowship, Recipient of Millennium Development Goals (MDG) Awards 2013 from the Indonesian government in March 2014, Liputan 6 SCTV Award, Candidate..

  • Idea & Project

    Mendirikan Borneo Blogger Community dan Gerakan Jurnalisme Kampung di Kalimantan Barat hingga mendapatan liputan luas oleh media nasional dan internasional..

  • Jurnalisme & Fiction

    Sebagai wartawan Mering banyak menghasilkan karya jurnalistik, tapi juga riset, menulis jurnal, karya sastra, berupa cerpen, puisi dan kini sedang menyelesikan penulisan sebuah novel..

  • ME & MB

    Mering juga menginisiasi pembentukan sejumlah komunitas para wartawan dan peneliti yang tergabung dalam Mata Enggang (ME), para penulis dan sastrawan di Mata Borneo (MB)....

  • What's NEWS?

    Blogger & Journalist Kampung

    Sejak Tahun 2007 mengembangkan metode Jurnalisme Kampung, melatih anggota komunitas dan orang kampung menulis, memotret dan membuat film sederhana, membuat weblog dan mengajarkan bagaimana menggunakan internet hingga ke pelosok-pelosok Nusantara.

    What I do

    Rabu, 21 Oktober 2015

    The Village journalist and Mother

    Mother called me early in the morning from the village.

    “Son, what did you do to appear on TV?”
    I was surprised. Why did mother’s voice sound so different? She spoke cautiously with aslow voice. I was not up yet, still dazed having just roused from sleep.

    I breathed slightly, trying to recall events from the past few days. Rippling water sounds from the Aquaponic in the garden steadily woke me.

    It was a TV show, where my name was amongst 35 candidates for Liputan 6 Awards SCTV 2015.*

    Hmm, maybe because mother usually sees negative news and corruptors on TV compared to good news. I told her that she had just heard happy news.

    After a lengthy explanation, bla...bla...bla…, she finally understood. She had heard gossip from her neighbours about her son appearing on TV. Goodness...

    “That’s good son…,” she said, proudly. She asked about her grandchildren, my two children. As usual, she ended the conversation with advice so that I would be patient, thankful and always say my prayers.

    After hanging up the telephone, I imagined mother’s smile. She would look much older now, after having had a slight stroke and it was difficult for her to walk properly.

    Fortunately, father was still well enough to care for her. As the eldest living uncertainly? in the city, I had been unable to visit her often. I do not recall ever making her proud, like those Indonesian sinetron ͒ , although as her son I would want to be filial and care for her.

    My thoughts strayed in the living room, pondering over whether I was qualified enough to be chosen as a candidate for an award from one of the oldest TV stations in Indonesia?

    Since a year ago, I had travelled to villages and rural areas of Indonesia and there were many champions of life* I met on the journey. There were stories that were as heroic as those portrayed in the best-selling novel Laskar Pelangi by Andrea Hirata.

    There were many locals who inspired and life warriors who strove to fight tirelessly against biased development in communities and local villages. One NGO facilitator who even forego to bathe for days, working tirelessly in a barren and dangerous village; a youth who worked polishing precious stones and contributed half of his earnings to his mosque’s youth movement and in Karang Taruna, a young boy had sworn he would build a village office better than the one he had been thrown out from because of his muddied feet (Today, he is an exemplary head village in Banten).

    These are the stories not covered by the media. Yet, there are many qualified warriors that deserve to be chosen for the award, and I am a nobody compared to them.

    My work has not finished, like the extract from Chairil Anwar’s poem, “belum berarti apa-apa”. (does not have any meaning yet)

    I had set up Tribune Institute with several friends, including H. Nur Iskandar so that more youths in West Kalimantan could write and use information wisely. We believed that quality information could contribute towards a better community livelihood in West Kalimantan.

    Later in 2011, I established Mata Enggang with my friends, Budi Miank, Endi Djenggoet, Bas Andreas G, because I did not wish to see my old dreams die. We started work on structural journalism in villages so that the community would not be left out due to insufficient information.

    Hence, like my mother, traumatised by seeing daily negative occurrences in the media we often forget that there are many good experiences in our country. It is akin to those grandfathers we see walking dizzily after learning of a variety of illnesses.

    As such, the award event by this private TV station, is one of a positive. This reminded me of a writing on a T-shirt worn by a friend: “Inilah Negeri Paling Bodoh yang aku Bela*”.

    Anyways, this is part of a work and devotion that is still unfinished; let nature runs its course with the blessings of God, definitely.

    This is the list of chosen candidates for the Liputan 6 Award, SCTV:

    Senin, 08 Desember 2014

    Kisah Mering, Pendiri Komunitas Blogger di Wilayah Perbatasan

    Tonton di link ini
    Liputan6.com, Kalimantan Barat - Pagi merekah dan sejuk di Dusun Loncek di tepi Sungai Ambawang, Kalimantan Barat. Berjarak sepanjang 80 KM dari Kota Pontianak, bisa dikata dusun berpopulasi 500-an jiwa ini terisolasi.

    Melihat dusun dengan kondisi seperti itu, seorang warga Pontianak yang bberasal dari Suku Dayak, Asriyadi Alexander Mering, merasa terpanggil.

    Mering akhirnya sering datang ke Dusun Loncek. Ia merasa dusun di perbatasan Indonesia - Malaysia ini bisa berkembang maju dengan sedikit sentuhan dan bimbingan.

    Dengan bekal pengalaman sebagai jurnalis dan aktivis di lembaga swadaya masyarakat (LSM), sarjana hukum ini memberi berbagai pelatihan praktis untuk warga Dusun Loncek. Pada 2012, Mering mendirikan komunitas blogger kawasan perbatasan.

    Sekarang warga Dusun Loncek lancar menulis dan mampu memanfaatkan internet, untuk berbagai hal praktis sehari-hari. Warga Dusun Loncek menyambut baik ide-ide Mering. Pelatihan oleh Mering pun selalu ditunggu-tunggu.

    Warga umumnya merasa internet adalah sarana ampuh untuk membuka berbagai akses. Dusun Loncek pun tidak lagi terisolasi. Bukan hanya mendapat informasi dari luar, melalui berbagai blog kreasi mereka sendiri, warga Dusun Loncek bisa menyampaikan informasi tentang dusun mereka kepada dunia luar.

    Pemberdayaan Dusun Loncek telah berjalan 3 tahun. Beberapa teman ikut membantu Mering sebagai relawan. Dusun Loncek sekarang sering mendapat tamu dari dunia pendidikan dan seni.

    Ayah dua anak ini bertekad terus mendorong penggunaan internet, untuk membuka akses terhadap kawasan-kawasan terpencil. Saksikan Sosok Minggu Ini selengkapnya yang ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Minggu (7/12/2014), di bawah ini. (Dan/Sun)


    Sabtu, 20 September 2014

    Republik Warung Kopi, Catatan Kecil dari Sudut Indonesia


    Ambang Petang, beranjak dari
    dermaga lengang selepas hujan
    Langit mengirim kelabu pucat
    Angin mengirim dingin
    Sungai mengirim keruh
    Dan kau mengirim mimpi

    Sengaja saya mengutip penggalan puisi murung yang ditulis penyair Amrin Zuraidi Rawansyah sebagai pembuka dari catatan ini. Catatan dari sebuah perayaan antologi sajak delapan penyair dari sebuah sudut Indonesia yang sekian lama tersembunyi dari hiruk-pikuk kesusastraan Indonesia, yakni delapan penyair dari Kalimantan Barat.

    Kalimantan Barat, sebuah kawasan luas yang dalam sejarahnya selalu dihubungkan dengan kekayaan hutan, kekayaan bumi, serta manusia-manusia Melayu, Dayak, Tionghoa, dan para pelintas batas Malaysia. Sejauh mata memandang, dari pantai landai Pontianak hingga Pemangkat, dari pancang tengah Singkawang hingga ketinggian Bengkayang, dataran luas ini menyimpan ribuan kisah tentang hamparan karet, lada, kopra, sawit, jeruk, hingga batubara dan ladang emas. Kalimantan Barat, seperti halnya daerah-daerah terluas lainnya di Indonesia, adalah penyangga penting bagi hadirnya Republik Indonesia, penyumbang devisa bagi megahnya Jakarta, hingga penjaga teguh sebagian perbatasan darat Malaysia.

    Tentu, hamparan kisah yang tertanam pada bumi yang luas ini, menjadi catatan penting ketika seorang penyair kemudian lahir di sana, dan menuliskan puisi-puisinya. “Puisi tidak lahir dari sebuah kekosongan, sebab penyair selalu mencatat apa yang didengar dan dirasakan,” begitulah setidaknya pengertian yang saya yakini tentang puisi. Seperti kata Rendra dalam puisinya, yang mengatakan bahwa “puisi adalah sebuah kesaksian,” //… Aku mendengar suara/jerit hewan yang terluka/ada orang memanah rembulan/ada anak burung terjatuh dari sarangnya/orang-orang harus dibangunkan/kesaksian harus diberikan/agar kehidupan bisa terjaga//. Maka kehidupan di bumi Kalimantan Barat adalah juga kehidupan yang subur dengan inspirasi, kehidupan yang subur dengan kegelisahan, dan dengan kesaksian-kesaksian.

    Delapan penyair dari kawasan ini, kini mencatatkan kesaksiannya, setelah lama terkubur dan lenyap dari perbincangan kesusastraan Indonesia selama bertahun-tahun. Setidaknya, ketika perbincangan kesusastraan Indonesia dari kawasan Pulau Kalimantan dibicarakan, maka yang muncul adalah dominasi Kalimantan Selatan, lalu disusul dengan Kalimantan Timur. Sedangkan Kalimantan Barat, selalu terdengar sayup-sayup, bahkan hampir tanpa kabar.
    Maka dengan terbitnya buku ini, seolah-olah menegaskan kembali bahwa kehadiran sastra di bumi Kalimantan Barat masih ada. 

    Delapan penyair yang rata-rata berusia muda, menuliskan kesaksiannya dengan beragam tema yang mengusik. Seperti halnya kutipan penggalan puisi murung “Menuju Kubu” pada awal tulisan, yang merupakan salah satu dari sepuluh puisi yang ditulis oleh penyair Amrin Zuraidi Rawansyah. // … Langit mengirim kelabu pucat/Angin mengirim dingin/Sungai mengirim keruh/Dan kau mengirim mimpi//. Suara lirih ini seakan mewakili doa dan sekaligus harapan bagi bumi kelahiran.

    Di belahan lain, rintihan yang lebih gamblang dikumandangkan oleh Wisnu Pamungkas. Puisinya yang diberi judul “Mitos Ruang”, dengan tegas mempertanyakan tanggungjawab dari kesalahan segelintir manusia yang harus ditanggung akibatnya oleh segenap keturunan, menjadi kutukan yang tak lekang dimakan waktu. //Berjuta-juta tahun kemudian/Ruang-ruang dibajak, dikapling-kapling seperti tanah/Diberi patok, diukur ulang/Bagi yang bukan keturunan ular beludak dilarang masuk/Tak seorang pun sadar kalau saat ini tempat itu telah jadi perangkap//. Betapa mengerikan sebuah desain peradaban yang diputuskan berdasarkan keuntungan sesaat, sehingga seorang penyair mentasbihkannya sebagai sebuah kutukan yang abadi. Wisnu Pamungkas telah menggunakan perangkat metafor verbal, akan tetapi menyimpan kecerdasan dalam membangun logika puisi, menjadi sebuah tema yang keras dan satir. Kita lihat misalnya pada puisi Negara Kelamin. Ia dengan enaknya memperolok sejarah, dengan cara mempermainkan logika, sehingga sejarah pada akhirnya hanyalah sebuah permainan iseng yang penuh ironi.

    NEGARA KELAMIN

    Ibu memproklamasikan kelamin Ayah sebagai negara baru

    Ayah tak berkutik dan menyerah, walau ia marah karena tiada pilihan

    Tiada yang salah pada hubungan mereka, tapi Ibu mengira telah menjadi pahlawan ketika berhasil menyesah Ayah di ranjang perkawinan

    Menciptakan khayalan terhadap persetubuhan
    Menelan lelaki itu mentah-mentah sebagai santapan

    Ayah tiada mengira kejantannya bisa menjadi negara, tetapi akhirnya ia terpaksa berbagi wilayah dengan wanita itu

    Membuat sempadan dari tirai, membaca proklamasi sendiri-sendiri di tapal batas
    Sebenarnya mereka dahulu sama-sama serdadu sebelum perang ini pecah
    Sebelum pahlawan menjadi kebutuhan untuk permainan

    Ibu memang pernah menaruh dendam pada Ayah, begitu pula Ayah. Mereka pernah berseteru walau tanpa pertumpahan darah.
     Hom pilahom pimpah!

    Sejak saat itu negara ini terpecah-pecah,

    Negara sakinah hanya iklan saat kampanye dilakukan
    Lagi pun sejak itu Ibu dan Ayah merasa tak perlu lagi menikah
    Hom pilahom pimpah!

    Sebuah puisi dengan gaya yang segar, dengan ironi yang keras, dengan spirit mempermainkan sebuah konsep yang serius tentang negara (tentang batas-batas kekuasaan), yang pada akhirnya hanyalah sekumpulan mitos untuk memperdaya kebodohan. Puisi Negara Kelamin Wisnu Pamungkas menunjukkan sebuah gaya yang khas, karakter yang unik yang memberi harapan sebuah penemuan baru dalam cara ungkap puisi. Tentu saja, saya menyambut gembira pada pencapaian semacam ini, yang sekaligus bukti bahwa penyair Kalimantan Barat memiliki potensi yang tidak boleh diabaikan.

    Lain dengan Wisnu Pamungkas, spirit serupa juga dikumandangkan oleh dua penyair yang menggarap tema sama dalam salah satu puisinya, yakni tema tentang Indonesia yang dibidik dari sebuah warung kopi. Ada potret beragam manusia, dengan nasibnya yang berbeda-beda, bersama mimpi dan harapan yang juga berbeda-beda, mereka masing-masing dibedah dalam bangku panjang sebuah kedai kopi. Bayangkanlah sebuah warung kopi adalah representasi dari nasib sebuah negara. //kau akan mendengar suara lebah di sini/bahkan lebih pikuk dari suara lebah//, begitulah puisi Warung Kopi Winny, Jalan Gajahmada; yang ditulis oleh penyair Pay Jarot Sujarwo. Ada segerombolan remaja “harapan bangsa” yang riuh mendiskusikan ponsel terbaru, gaya hidup, dan pacaran, tak peduli pada keluhuran cita-cita; ada pengusaha rakus berceramah dengan dandanan wangi dan perlente; ada pegawai negeri malu-malu dengan baju safari, mereka mangkir dan melihat para pelayan dengan birahi; ada segerombolan penjudi meramal angka dan selalu yakin setiap hari bahwa hari ini akan ada keberuntungan dari nomor-nomor ajaib yang diramal; ada sekelompok wartawan yang saling pamer berita, dan berdiskusi tentang parlemen negara di gedung-gedung negara; ada aktivis LSM, ada yang jatuh cinta, ada yang patah hati, ada rencana-rencana, ada proyek, partai, ada trik-trik para penipu; dan ada para pelacur bergoyang memamerkan tubuhnya. Inilah negara. Inilah tanah air. Dan inilah penyair Pay Jarot Sujarwo yang mememberi kesaksian dalam puisi, bahwa negara hanyalah sebuah warung kopi.

    Kemudian Ety Syaifurohyani (seakan-akan memiliki getaran yang serupa), menulis puisi Kopitiam dengan penggalan kalimat berikut: //… kalau pejabat ingin mendengar keluhan dan jeritan rakyat/duduklah di kopitiam/para pejabat yang terhormat akan mendengar jeritan rakyat …//. Tentu, ”Indonesia” dalam catatan dua penyair yang menuliskannya dalam logika ”warung kopi”, adalah Indonesia yang direkam dalam bayangan besar, dari sebuah sudut kecil bernama: Kalimantan Barat.
    Puisi lain adalah puisi yang penuh tenaga seperti kilatan pedang samurai: padat, berkelebat, dan menebas. Inilah gaya yang khas dari Ida Nursanti Basuni. Dua puisinya tentang kengerian dan kesedihan rintihan bumi Kalimantan direkam dengan getaran yang penuh perih, menimbulkan suasana yang asing, sepi, dan menggantung. Puisi dengan judul Pagagan, dan Maktangguk, menandai sebuah gaya yang dalam menghipnotis pembaca lewat tebasannya yang padat.

    PEGAGAN
    Keranji merah bergumam:
    “kelat kebal
    segala hama!”
    Pegagan meriap

    MAKTANGGUK
    Sehabis maghrib
    pukul setengah tujuh malam
    batang limau mengejan
    senyap
    Angin menerbangkan putik kelapa
    lengang gardu jaga
    raung genset lesap

    Kegesitan Ida Nursanti Basuni dalam merekam respon spontan dari sebuah tempat, melahirkan suasana magis yang menikam. Mengingatkan saya pada sebaris sajak yang ditulis oleh Sitor Situmorang (dan puisinya menjadi sangat terkenal karena memang hanya terdiri dari satu baris), yang berjudul “Malam Lebaran”.

    MALAM LEBARAN
    Bulan di atas kuburan
    Puisi jenis ini, bagi beberapa penyair, adalah puncak sebuah pencapaian. Tidak mudah menulis sebuah puisi yang hanya berisi inti, dengan pilihan kata yang betul-betul diperhitungkan baik dari segi bunyi, keindahan irama, dan juga sekaligus mewakili makna. Meskipun ia puisi yang teramat pendek, tapi momen-momen puitiklah yang menentukan tingkat keberhasilannya. Momen-momen puitik, tentu tak akan banyak berguna jika tanpa didasari oleh pengalaman dan kepekaan yang lebih. Ida Nursanti Basuni memiliki kepekaan pada bahasa yang lebih, dibandingkan yang lain di dalam buku ini.

    Tiga penyair berikutnya adalah Saifun Arif Kojeh, Syazsya Kayung, dan Nano L. Basuki. Nano L. Basuki lebih tertarik pada kesaksiannya terhadap dunia pendidikan, sedangkan Saifun Arif Kojeh dan Syazsya Kayung lebih tertarik pada nyanyian alam yang berisi keperihan lantaran kerusakan akibat ulah manusia. Gambaran-gambaran ketiga penyair ini, juga mewakili gambaran kegelisahan dari pertanyaan yang sama: ke manakah sesungguhnya negeri ini hendak dibawa?

    Demikian kesaksian delapan penyair Indonesia yang lahir dan besar dari sudut yang jauh, Kalimantan Barat. Selamat datang di belantara khazanah kesusastraan Indonesia.

    Singkawang, Juni 2011

    Sumber: http://theindonesianwriters.wordpress.com/2011/08/15/republik-warung-kopi-catatan-kecil-dari-sudut-indonesia/

    Minggu, 17 Agustus 2014

    17 Agustus Ayah

    Photo:  dari http://kfk.kompas.com/kfk/view/128542

      Oleh: didi zodi pada 1 Sep 2012


    by Wisnu Pamungkas

    Seperti selalu
    Setiap malam, sebelum perayaan, aku menunggumu di beranda
    Berharap engkau akan muncul di ujung jalan,
    melambaikan tangan, seperti orang-orang tua lain yang rindu pulang menuju rumah

    Seperti selalu
    Menjelang hari perayaanmu, aku sudah naikan bendera tinggi di halaman, berharap engkau langsung melihatnya sejak di mulut gang

    (Haraplah usia tak membuatmu lupa, seperti membaca peta di medan perang,  haraplah ingatanmu masih cukup terang, walau pun lama tak pernah pulang, mabuk oleh birahi tambang, para mafia kebun sawit dan bertualang dari ranjang ke ranjang politik.)

    Setiap tahun malam 17-an
    Aku selalu menunggumu, membuka pintu dan semua jendela, berharap engkau benar-benar pernah pulang

    Betapa pun besar benci kupendam, engkau tetap seorang ayah,
    yang menuntun anak-anak dan  bayimu menemukan puting susu 

    Seperti selalu
    Setiap menjelang perayaan harimu,
    Kolega dan para tetangga yang mengaku paling ayah, berlomba-lomba mengibarkan bendera dari istana hingga ke hotel-hotel mewah, 
    dan keturunan prajurit-prajuritmu berpesta di senayan, sementara anak-anakmu yang dikandung ibu terusir dari kolong, dari sudut-sudut kampung  karena tanah moyangnya telah dikavling-kavling para perompak

    Seperti selalu,
    Menjelang pesta rakyat
    kusediakan juga untukmu handuk dan air hangat, rumah kita memang sudah tua dan separuh rusak
    Tapi aku tetaplah anakmu, meski hanya kau wariskan bendera koyak


    Ketapang, 17 Agustus 2014