Alexander Mering portfolio

Since I’m a journalist, I write. Writing is a way to build an epigraphy, as a reminder. A way to be released from historical suspicion. A balance for spiritual life and memorizing the upcoming. A kind of priceless ritual and also an effort to be truthful, faithful, and altruistic. By writing, I wish I could escape from the Milky Way’s trap.....

  • Key Qualifications

    A 14-year experience as a journalist, with the last four years involved in designing communication programs for NGOs, government as well as for the private sectors...

  • High Performing

    Possessing strong journalistic skills, Research, organizational, facilitation, engagement, reporting, blogging, management and consultant media of media..

  • Fellow and Awards

    The USA fellowship, Recipient of Millennium Development Goals (MDG) Awards 2013 from the Indonesian government in March 2014, Liputan 6 SCTV Award, Candidate..

  • Idea & Project

    Mendirikan Borneo Blogger Community dan Gerakan Jurnalisme Kampung di Kalimantan Barat hingga mendapatan liputan luas oleh media nasional dan internasional..

  • Jurnalisme & Fiction

    Sebagai wartawan Mering banyak menghasilkan karya jurnalistik, tapi juga riset, menulis jurnal, karya sastra, berupa cerpen, puisi dan kini sedang menyelesikan penulisan sebuah novel..

  • ME & MB

    Mering juga menginisiasi pembentukan sejumlah komunitas para wartawan dan peneliti yang tergabung dalam Mata Enggang (ME), para penulis dan sastrawan di Mata Borneo (MB)....

  • What's NEWS?

    Blogger & Journalist Kampung

    Sejak Tahun 2007 mengembangkan metode Jurnalisme Kampung, melatih anggota komunitas dan orang kampung menulis, memotret dan membuat film sederhana, membuat weblog dan mengajarkan bagaimana menggunakan internet hingga ke pelosok-pelosok Nusantara.

    What I do

    Senin, 08 Desember 2014

    Kisah Mering, Pendiri Komunitas Blogger di Wilayah Perbatasan

    Tonton di link ini
    Liputan6.com, Kalimantan Barat - Pagi merekah dan sejuk di Dusun Loncek di tepi Sungai Ambawang, Kalimantan Barat. Berjarak sepanjang 80 KM dari Kota Pontianak, bisa dikata dusun berpopulasi 500-an jiwa ini terisolasi.

    Melihat dusun dengan kondisi seperti itu, seorang warga Pontianak yang bberasal dari Suku Dayak, Asriyadi Alexander Mering, merasa terpanggil.

    Mering akhirnya sering datang ke Dusun Loncek. Ia merasa dusun di perbatasan Indonesia - Malaysia ini bisa berkembang maju dengan sedikit sentuhan dan bimbingan.

    Dengan bekal pengalaman sebagai jurnalis dan aktivis di lembaga swadaya masyarakat (LSM), sarjana hukum ini memberi berbagai pelatihan praktis untuk warga Dusun Loncek. Pada 2012, Mering mendirikan komunitas blogger kawasan perbatasan.

    Sekarang warga Dusun Loncek lancar menulis dan mampu memanfaatkan internet, untuk berbagai hal praktis sehari-hari. Warga Dusun Loncek menyambut baik ide-ide Mering. Pelatihan oleh Mering pun selalu ditunggu-tunggu.

    Warga umumnya merasa internet adalah sarana ampuh untuk membuka berbagai akses. Dusun Loncek pun tidak lagi terisolasi. Bukan hanya mendapat informasi dari luar, melalui berbagai blog kreasi mereka sendiri, warga Dusun Loncek bisa menyampaikan informasi tentang dusun mereka kepada dunia luar.

    Pemberdayaan Dusun Loncek telah berjalan 3 tahun. Beberapa teman ikut membantu Mering sebagai relawan. Dusun Loncek sekarang sering mendapat tamu dari dunia pendidikan dan seni.

    Ayah dua anak ini bertekad terus mendorong penggunaan internet, untuk membuka akses terhadap kawasan-kawasan terpencil. Saksikan Sosok Minggu Ini selengkapnya yang ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Minggu (7/12/2014), di bawah ini. (Dan/Sun)


    Sabtu, 20 September 2014

    Republik Warung Kopi, Catatan Kecil dari Sudut Indonesia


    Ambang Petang, beranjak dari
    dermaga lengang selepas hujan
    Langit mengirim kelabu pucat
    Angin mengirim dingin
    Sungai mengirim keruh
    Dan kau mengirim mimpi

    Sengaja saya mengutip penggalan puisi murung yang ditulis penyair Amrin Zuraidi Rawansyah sebagai pembuka dari catatan ini. Catatan dari sebuah perayaan antologi sajak delapan penyair dari sebuah sudut Indonesia yang sekian lama tersembunyi dari hiruk-pikuk kesusastraan Indonesia, yakni delapan penyair dari Kalimantan Barat.

    Kalimantan Barat, sebuah kawasan luas yang dalam sejarahnya selalu dihubungkan dengan kekayaan hutan, kekayaan bumi, serta manusia-manusia Melayu, Dayak, Tionghoa, dan para pelintas batas Malaysia. Sejauh mata memandang, dari pantai landai Pontianak hingga Pemangkat, dari pancang tengah Singkawang hingga ketinggian Bengkayang, dataran luas ini menyimpan ribuan kisah tentang hamparan karet, lada, kopra, sawit, jeruk, hingga batubara dan ladang emas. Kalimantan Barat, seperti halnya daerah-daerah terluas lainnya di Indonesia, adalah penyangga penting bagi hadirnya Republik Indonesia, penyumbang devisa bagi megahnya Jakarta, hingga penjaga teguh sebagian perbatasan darat Malaysia.

    Tentu, hamparan kisah yang tertanam pada bumi yang luas ini, menjadi catatan penting ketika seorang penyair kemudian lahir di sana, dan menuliskan puisi-puisinya. “Puisi tidak lahir dari sebuah kekosongan, sebab penyair selalu mencatat apa yang didengar dan dirasakan,” begitulah setidaknya pengertian yang saya yakini tentang puisi. Seperti kata Rendra dalam puisinya, yang mengatakan bahwa “puisi adalah sebuah kesaksian,” //… Aku mendengar suara/jerit hewan yang terluka/ada orang memanah rembulan/ada anak burung terjatuh dari sarangnya/orang-orang harus dibangunkan/kesaksian harus diberikan/agar kehidupan bisa terjaga//. Maka kehidupan di bumi Kalimantan Barat adalah juga kehidupan yang subur dengan inspirasi, kehidupan yang subur dengan kegelisahan, dan dengan kesaksian-kesaksian.

    Delapan penyair dari kawasan ini, kini mencatatkan kesaksiannya, setelah lama terkubur dan lenyap dari perbincangan kesusastraan Indonesia selama bertahun-tahun. Setidaknya, ketika perbincangan kesusastraan Indonesia dari kawasan Pulau Kalimantan dibicarakan, maka yang muncul adalah dominasi Kalimantan Selatan, lalu disusul dengan Kalimantan Timur. Sedangkan Kalimantan Barat, selalu terdengar sayup-sayup, bahkan hampir tanpa kabar.
    Maka dengan terbitnya buku ini, seolah-olah menegaskan kembali bahwa kehadiran sastra di bumi Kalimantan Barat masih ada. 

    Delapan penyair yang rata-rata berusia muda, menuliskan kesaksiannya dengan beragam tema yang mengusik. Seperti halnya kutipan penggalan puisi murung “Menuju Kubu” pada awal tulisan, yang merupakan salah satu dari sepuluh puisi yang ditulis oleh penyair Amrin Zuraidi Rawansyah. // … Langit mengirim kelabu pucat/Angin mengirim dingin/Sungai mengirim keruh/Dan kau mengirim mimpi//. Suara lirih ini seakan mewakili doa dan sekaligus harapan bagi bumi kelahiran.

    Di belahan lain, rintihan yang lebih gamblang dikumandangkan oleh Wisnu Pamungkas. Puisinya yang diberi judul “Mitos Ruang”, dengan tegas mempertanyakan tanggungjawab dari kesalahan segelintir manusia yang harus ditanggung akibatnya oleh segenap keturunan, menjadi kutukan yang tak lekang dimakan waktu. //Berjuta-juta tahun kemudian/Ruang-ruang dibajak, dikapling-kapling seperti tanah/Diberi patok, diukur ulang/Bagi yang bukan keturunan ular beludak dilarang masuk/Tak seorang pun sadar kalau saat ini tempat itu telah jadi perangkap//. Betapa mengerikan sebuah desain peradaban yang diputuskan berdasarkan keuntungan sesaat, sehingga seorang penyair mentasbihkannya sebagai sebuah kutukan yang abadi. Wisnu Pamungkas telah menggunakan perangkat metafor verbal, akan tetapi menyimpan kecerdasan dalam membangun logika puisi, menjadi sebuah tema yang keras dan satir. Kita lihat misalnya pada puisi Negara Kelamin. Ia dengan enaknya memperolok sejarah, dengan cara mempermainkan logika, sehingga sejarah pada akhirnya hanyalah sebuah permainan iseng yang penuh ironi.

    NEGARA KELAMIN

    Ibu memproklamasikan kelamin Ayah sebagai negara baru

    Ayah tak berkutik dan menyerah, walau ia marah karena tiada pilihan

    Tiada yang salah pada hubungan mereka, tapi Ibu mengira telah menjadi pahlawan ketika berhasil menyesah Ayah di ranjang perkawinan

    Menciptakan khayalan terhadap persetubuhan
    Menelan lelaki itu mentah-mentah sebagai santapan

    Ayah tiada mengira kejantannya bisa menjadi negara, tetapi akhirnya ia terpaksa berbagi wilayah dengan wanita itu

    Membuat sempadan dari tirai, membaca proklamasi sendiri-sendiri di tapal batas
    Sebenarnya mereka dahulu sama-sama serdadu sebelum perang ini pecah
    Sebelum pahlawan menjadi kebutuhan untuk permainan

    Ibu memang pernah menaruh dendam pada Ayah, begitu pula Ayah. Mereka pernah berseteru walau tanpa pertumpahan darah.
     Hom pilahom pimpah!

    Sejak saat itu negara ini terpecah-pecah,

    Negara sakinah hanya iklan saat kampanye dilakukan
    Lagi pun sejak itu Ibu dan Ayah merasa tak perlu lagi menikah
    Hom pilahom pimpah!

    Sebuah puisi dengan gaya yang segar, dengan ironi yang keras, dengan spirit mempermainkan sebuah konsep yang serius tentang negara (tentang batas-batas kekuasaan), yang pada akhirnya hanyalah sekumpulan mitos untuk memperdaya kebodohan. Puisi Negara Kelamin Wisnu Pamungkas menunjukkan sebuah gaya yang khas, karakter yang unik yang memberi harapan sebuah penemuan baru dalam cara ungkap puisi. Tentu saja, saya menyambut gembira pada pencapaian semacam ini, yang sekaligus bukti bahwa penyair Kalimantan Barat memiliki potensi yang tidak boleh diabaikan.

    Lain dengan Wisnu Pamungkas, spirit serupa juga dikumandangkan oleh dua penyair yang menggarap tema sama dalam salah satu puisinya, yakni tema tentang Indonesia yang dibidik dari sebuah warung kopi. Ada potret beragam manusia, dengan nasibnya yang berbeda-beda, bersama mimpi dan harapan yang juga berbeda-beda, mereka masing-masing dibedah dalam bangku panjang sebuah kedai kopi. Bayangkanlah sebuah warung kopi adalah representasi dari nasib sebuah negara. //kau akan mendengar suara lebah di sini/bahkan lebih pikuk dari suara lebah//, begitulah puisi Warung Kopi Winny, Jalan Gajahmada; yang ditulis oleh penyair Pay Jarot Sujarwo. Ada segerombolan remaja “harapan bangsa” yang riuh mendiskusikan ponsel terbaru, gaya hidup, dan pacaran, tak peduli pada keluhuran cita-cita; ada pengusaha rakus berceramah dengan dandanan wangi dan perlente; ada pegawai negeri malu-malu dengan baju safari, mereka mangkir dan melihat para pelayan dengan birahi; ada segerombolan penjudi meramal angka dan selalu yakin setiap hari bahwa hari ini akan ada keberuntungan dari nomor-nomor ajaib yang diramal; ada sekelompok wartawan yang saling pamer berita, dan berdiskusi tentang parlemen negara di gedung-gedung negara; ada aktivis LSM, ada yang jatuh cinta, ada yang patah hati, ada rencana-rencana, ada proyek, partai, ada trik-trik para penipu; dan ada para pelacur bergoyang memamerkan tubuhnya. Inilah negara. Inilah tanah air. Dan inilah penyair Pay Jarot Sujarwo yang mememberi kesaksian dalam puisi, bahwa negara hanyalah sebuah warung kopi.

    Kemudian Ety Syaifurohyani (seakan-akan memiliki getaran yang serupa), menulis puisi Kopitiam dengan penggalan kalimat berikut: //… kalau pejabat ingin mendengar keluhan dan jeritan rakyat/duduklah di kopitiam/para pejabat yang terhormat akan mendengar jeritan rakyat …//. Tentu, ”Indonesia” dalam catatan dua penyair yang menuliskannya dalam logika ”warung kopi”, adalah Indonesia yang direkam dalam bayangan besar, dari sebuah sudut kecil bernama: Kalimantan Barat.
    Puisi lain adalah puisi yang penuh tenaga seperti kilatan pedang samurai: padat, berkelebat, dan menebas. Inilah gaya yang khas dari Ida Nursanti Basuni. Dua puisinya tentang kengerian dan kesedihan rintihan bumi Kalimantan direkam dengan getaran yang penuh perih, menimbulkan suasana yang asing, sepi, dan menggantung. Puisi dengan judul Pagagan, dan Maktangguk, menandai sebuah gaya yang dalam menghipnotis pembaca lewat tebasannya yang padat.

    PEGAGAN
    Keranji merah bergumam:
    “kelat kebal
    segala hama!”
    Pegagan meriap

    MAKTANGGUK
    Sehabis maghrib
    pukul setengah tujuh malam
    batang limau mengejan
    senyap
    Angin menerbangkan putik kelapa
    lengang gardu jaga
    raung genset lesap

    Kegesitan Ida Nursanti Basuni dalam merekam respon spontan dari sebuah tempat, melahirkan suasana magis yang menikam. Mengingatkan saya pada sebaris sajak yang ditulis oleh Sitor Situmorang (dan puisinya menjadi sangat terkenal karena memang hanya terdiri dari satu baris), yang berjudul “Malam Lebaran”.

    MALAM LEBARAN
    Bulan di atas kuburan
    Puisi jenis ini, bagi beberapa penyair, adalah puncak sebuah pencapaian. Tidak mudah menulis sebuah puisi yang hanya berisi inti, dengan pilihan kata yang betul-betul diperhitungkan baik dari segi bunyi, keindahan irama, dan juga sekaligus mewakili makna. Meskipun ia puisi yang teramat pendek, tapi momen-momen puitiklah yang menentukan tingkat keberhasilannya. Momen-momen puitik, tentu tak akan banyak berguna jika tanpa didasari oleh pengalaman dan kepekaan yang lebih. Ida Nursanti Basuni memiliki kepekaan pada bahasa yang lebih, dibandingkan yang lain di dalam buku ini.

    Tiga penyair berikutnya adalah Saifun Arif Kojeh, Syazsya Kayung, dan Nano L. Basuki. Nano L. Basuki lebih tertarik pada kesaksiannya terhadap dunia pendidikan, sedangkan Saifun Arif Kojeh dan Syazsya Kayung lebih tertarik pada nyanyian alam yang berisi keperihan lantaran kerusakan akibat ulah manusia. Gambaran-gambaran ketiga penyair ini, juga mewakili gambaran kegelisahan dari pertanyaan yang sama: ke manakah sesungguhnya negeri ini hendak dibawa?

    Demikian kesaksian delapan penyair Indonesia yang lahir dan besar dari sudut yang jauh, Kalimantan Barat. Selamat datang di belantara khazanah kesusastraan Indonesia.

    Singkawang, Juni 2011

    Sumber: http://theindonesianwriters.wordpress.com/2011/08/15/republik-warung-kopi-catatan-kecil-dari-sudut-indonesia/

    Minggu, 17 Agustus 2014

    17 Agustus Ayah

    Photo:  dari http://kfk.kompas.com/kfk/view/128542

      Oleh: didi zodi pada 1 Sep 2012


    by Wisnu Pamungkas

    Seperti selalu
    Setiap malam, sebelum perayaan, aku menunggumu di beranda
    Berharap engkau akan muncul di ujung jalan,
    melambaikan tangan, seperti orang-orang tua lain yang rindu pulang menuju rumah

    Seperti selalu
    Menjelang hari perayaanmu, aku sudah naikan bendera tinggi di halaman, berharap engkau langsung melihatnya sejak di mulut gang

    (Haraplah usia tak membuatmu lupa, seperti membaca peta di medan perang,  haraplah ingatanmu masih cukup terang, walau pun lama tak pernah pulang, mabuk oleh birahi tambang, para mafia kebun sawit dan bertualang dari ranjang ke ranjang politik.)

    Setiap tahun malam 17-an
    Aku selalu menunggumu, membuka pintu dan semua jendela, berharap engkau benar-benar pernah pulang

    Betapa pun besar benci kupendam, engkau tetap seorang ayah,
    yang menuntun anak-anak dan  bayimu menemukan puting susu 

    Seperti selalu
    Setiap menjelang perayaan harimu,
    Kolega dan para tetangga yang mengaku paling ayah, berlomba-lomba mengibarkan bendera dari istana hingga ke hotel-hotel mewah, 
    dan keturunan prajurit-prajuritmu berpesta di senayan, sementara anak-anakmu yang dikandung ibu terusir dari kolong, dari sudut-sudut kampung  karena tanah moyangnya telah dikavling-kavling para perompak

    Seperti selalu,
    Menjelang pesta rakyat
    kusediakan juga untukmu handuk dan air hangat, rumah kita memang sudah tua dan separuh rusak
    Tapi aku tetaplah anakmu, meski hanya kau wariskan bendera koyak


    Ketapang, 17 Agustus 2014

    Senin, 04 Agustus 2014

    Mering Sang Pamungkas

    Oleh Pay Jarot Sujarwo
    Ini cerita tentang seorang kawan yang memiliki dua nama. Alecander Mering dan Wisnu Pamungkas. Orangnya cuma satu. 
    Tentang dua nama ini, kucoba mengulangi kembali cerita yang pernah kudengar langsung dari pemilik nama, atau yang bersangkutan. Alexander Mering adalah salah seorang jurnalis di Kalimantan Barat. Dia adalah orang Dayak yang dimasa mudanya pengen menjadi orang Batak. Hmm, ini adalah kesimpulanku sendiri. Karena dia memutuskan untuk kuliah di Fakultas Hukum. Nah, orang Batak kan banyak yang menjadi pengacara tuh, so, pastinya para pengacara itu juga kuliah di Fakultas Hukum. Berdasarkan analisis inilah, maka kusimpulkan bahwa AA. Mering ketika tamat SMA pengen menjadi orang Batak. Atau dia pengen punya nama tambahan, seperti Mering Simamora, atau Mering Simorangkir, atau Mering Sitompul, atau Mering Simalakama.
    Oh, analisis di atas adalah analisis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tapi mungkin kita bisa sedikit mempertimbangkan soal nama Mering Simalakama. Ya, memang simalakama-lah si Mering itu, sebab lulus dari Fakultas Hukum, bukannya menjadi orang Batak, apalagi menjadi pengacara, malah menjadi penulis. Hebatnya lagi, dia bersumpah atas nama pohon dengan segala macam roh halus maupun kasar, logis maupun tidak logis, bahwa dia tidak pernah menyesal sudah menjadi penulis.

    Begini kira-kira cerita yang pernah kudengar dari mulutnya langsung. Sebagai orang kampung, tentu saja bisa kuliah adalah hal yang membanggakan sekaligus menyedihkan. Bangga, karena tidak semua orang kampung bisa kuliah. Sedih karena orang kampung yang bisa kuliah berarti harus siap dengan kelaparan dan hutang sana-sini di akhir bulan. Menunggu kiriman orang tua, hmmm, sebaiknya lebih berbunga-bunga menunggu surat cinta dari sang kekasih dari pada menunggu wesel dari kampung. Miskin mungkin bisa dijadikan salah satu alasan baginya untuk mencari uang sewaktu kuliah dengan menulis. Walaupun alasan yang sebenarnya, Mering memang sudah terbiasa dengan bahan-bahan bacaan sejak kecil yang juga memotivasi dirinya untuk juga menulis. Pelajaran moral pertama: Sumpah atas nama pohon yang disambar-sambar geledek saat hujan membabi buta, bahwa tidak akan pernah lahir seorang penulis, kalau dirinya tidak mau membaca. Ya, penulis dilahirkan dari rahim berlembar-lembar bahan bacaan dengan air susu dan belai lembut huruf, kata, dan kalimat yang pada akhirnya mendarah daging dalam dirinya. Oh, rumit kayaknya. Begini simpelnya. KALAU MAU JADI PENULIS, YA HARUS JADI PEMBACA.
    Nah, Mering Simalakama adalah orang yang telah menyantap banyak bahan bacaan semenjak dia kecil. Jadi tidaklah mengherankan kalau ketika dia besar pada akhirnya menjadi penulis. Karena hobby-nya adalah menulis, dan di kampus tempatnya kuliah dia mendengar ada kelompok belajar atau sanggar yang konsentrasi dalam bidang kepenulisan, diapun nyelonong ke sana. Nama sanggar ini adalah Sanggar KIPRAH. Dan perlu diketahui bahwa sanggar KIPRAH adalah sanggar yang didirikan oleh anak-anak Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura, khususnya anak program studi Bahasa Indonesia, yang otomatis anggotanya adalah anak-anak internal FKIP. Tapi dasar simalakama, Mering nekat untuk menjadi anggota sanggar KIPRAH, padahal, sudah diketahui bahwa Mering adalah mahasiswa dari Fakultas Hukum. Entah dengan jampi-jampi apa yang dimilikinya, hingga akhirnya, selain kuliah di Fakultas Hukum Untan, Mering juga kuliah menulis di Fakultas KIPRAH.
    Yang ditulisnya sebagian besar adalah karya-karya sastra. Sajak, cerpen, artikel budaya. Selain itu Mering juga menulis tentang laporan-laporan jurnalistik. Nah, karya-karya yang ditulisnya ini sebagian dikirimkannya ke media-media cetak baik lokal maupun nasional. Dengan nama pengarang ditulis lengkap sebagai Asriyadi Alexander Mering, atau disingkat dengan AA. Mering. Ada banyak sajak dan cerpen yang dikirimnya. Ada banyak waktu yang dibuangnya. Ada banyak ide, inajinasi, pikiran, tenaga, uang untuk beli amplop dan prangko, tapi tulisannya tak kunjung terbit. Memang pantaslah dia dikasi nama Mering Simalakama. Mau jadi orang Batak gagal, mau jadi pengacara apalagi, mau jadi penulis, duh susahnya.
    Sebenarnya nasib yang dialami Mering, juga merupakan nasib yang dialami penulis-penulis besar lainnya ketika mengawali karir kepenulisannya. Umbu Landu Paranggi, Seno Gumira Ajidarma, Pramudya Ananto Toer, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, WS. Rendra, mereka tidak menulis sekali, lalu membalikkan telapak tangan, lalu orang-orang menyebutnya sebagai penulis ternama. Tidak. Tidak seperti itu. Nama-nama yang lain, seperti Rosihan Anwar, Gunawan Muhammad, Dahlan Iskan, Jacoub Oetama, Hasan Aspahani, Nur Iskandar, Muhlis Suhaeri, PJ Sujarwo, pun tidak langsung lahir sebagai penulis seperti membuka mata saat bangun tidur. Tidak seperti itu. Nasib yang dialami simalakama Mering juga dialami hampir 100 persen penulis ternama di dunia ini. Mengirimkan tulisannya berkali-kali. Ditolak. Tidak putus asa. Kirim lagi. Ditolak lagi. Kirim lagi. Ditolak lagi. Begitu terus menerus. Bahkan tak jarang dengan penolakan yang sangat memalukan, misalnya dengan kalimat seperti ini: Hey, kamu kalau ga bisa nulis, kenapa maksa jadi penulis sih? Lebih baik pulang ke rumah sana, nyusu lagi di tetek ibumu! Dasar anak bau kencur basi, yang kalau kencur itu dicampur dalam jamu, yang minum jamu akan sakit perut tujuh hari tujuh malam! Ya, makian sejenis itu adalah makian yang wajar ditemui oleh orang-orang yang dikemudian hari kita kenal sebagai penulis-penulis luar biasa.

    Pelajaran moral kedua adalah: Sumpah atas nama pepohonan yang tumbuh gagah perkasa di hutan Kalimantan dan dengan seenaknya ditebangi oleh para pemilik modal, TIDAK AKAN LAHIR SEORANG PENULIS YANG BARU SEKALI MENGIRIMKAN KARYANYA KE MEDIA, LALU TIDAK TERBIT, DAN MERENGEK-RENGEK DENGAN WAJAH MENJIJIKKAN. TIDAK AKAN PERNAH TANDA SERU ENAM KALI.
    Begitulah, Asriyadi Alexander Mering tak gentar menghadapi segala macam bahaya penolakan redaktur dan caci maki tak berperasaan. Dan dia bukan orang kampung yang bodoh bale, tapi sebaliknya, kecerdasan yang dimiliki Mering adalah kecerdasan yang belum tentu dimiliki oleh orang-orang kebanyakan. Mering sudah kehabisan cerita untuk dikirimkan. Tapi dia tidak kehabisan akal. Cerita yang dulu pernah dikirimnya dan ditolak, dia ketik ulang dengan nama pengarang yang berbeda, dan kembali dikirim di media yang sama, yang telah menolak cerita itu. Kali ini nama pengarangnya adalah WISNU PAMUNGKAS. Oh, orang Dayak yang ingin jadi orang Batak ini, ternyata juga ingin menjadi orang Jawa atau orang Bali. Lihat, Wisnu adalah nama dewa agama Hindu, yang nama ini kebanyakan dipakai oleh orang-orang Bali atau mereka yang beragama Hindu. Pamungkas, adalah bahasa Jawa yang artinya adalah “Yang terakhir atau penutup” atau Wisnu Pamungkas bisa kita artikan sebagai Dewa Wisnu yang terakhir yang menitis di dalam darah Mering Simalakama. Analisisnya begini, setelah Mering Simalakama menitis menjadi Dewa Wisnu, tak ada lagi titisan-titisan Dewa Wisnu yang lain di muka bumi ini karena dia adalah Wisnu Pamungkas, atau Dewa Wisnu terakhir yang turun ke dunia yang masuk ke dalam darah orang Dayak. Lagi-lagi analisis ini adalah analisis yang sama sekali tidak dapat dipertanggung jawabkan.
    Aneh bin Ajaib (sudah pasti Aneh berjenis kelamin laki-laki, karena kalau Aneh itu perempuan pasti jadi Aneh binti Ajaib), cerita yang sama yang pernah dikirim ke media yang sama dan ditolak dengan tidak hormat, ketika dikirimkan kembali dengan nama pengarang Wisnu Pamungkas, pada akhirnya terbit. Dan media ini bukan sembarang media yang terbit di daerah-daerah, melainkan ini adalah media nasional. Lupa aku apa nama medianya, tapi aku ingat bahwa ini adalah media nasional. Nanti kalau kalian bertemu langsung dengan Mering, tanya aja apa nama media nasional yang telah melambungkan namanya sebagai Wisnu Pamungkas.
    So what, kesaktian Dewa Wisnu inilah yang kemudian disandangnya kemana-mana. Kali ini namanya bukan lagi Mering Simalakama. Melainkan Wisnu Pamungkas. Bukan lagi orang Batak, melainkan orang Jawa-Bali. Dan sekarang, kalau kalian bertemu dengan Mering dan bertanya soal identitas kesukuan, dia akan mudah menjawab, bahwa dirinya adalah manusia tanpa identitas. Dan kalaupun dia mau punya identitas, dia tinggal bikin saja identitas itu sesuka hatinya. Karena menurutnya, identitas itu adalah pilihan yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan. Sekarang aku baru menyadari bahwa orang cerdas ini memang telah memiliki pilihan, bahkan semenjak usianya masih teramat sangat muda (kalimat ini sama sekali tidak berarti bahwa sekarang Mering sudah menjadi teramat sangat tua).
    Begitulah sejarah laki-laki cerdas dari satu kampung terpencil di Kabupaten Sintang ini punya nama. Mering atau Wisnu. Sama saja. Akhir-akhir ini dia membuat keputusan, karena profesinya adalah jurnalis. Dan setiap yang dihasilkan oleh jurnalis adalah fakta, soal nama pun harus juga fakta. Maka, sebagai jurnalis dia bernama AA. Mering. Nah, dalam hal imajinasi, dalam hal ini sastra, ketika dia menulis sastra, maka dengan bebas dia menyebut dirinya siapa. Karena nama dalam dunia sastra tak lebih dari persoalan imajinasi. Jadi panggil dia dengan nama Wisnu Pamungkas ketika kalian membaca tulisan-tulisan sastranya.
    Nama Wisnu Pamugkas kudengar pertama kali dari dua orang teman, Amrin dan Yufita. Waktu itu kami bertiga ingin menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpen dan sedang mencari-cari siapa yang pantas menulis di kata pengantar buku tersebut. Karena aku baru saja kembali ke Pontianak, dan belum terlalu banyak mengenal sesiapa saja penulis atau kritikus sastra di daerah ini, maka aku pasrah dan percaya saja ketika Amrin dan Yufita menyebut nama Wisnu Pamungkas. Waktu itu Wisnu bekerja di salah sebuah media cetak di Kalimntan Barat. “Waktu itu” bisa juga dibaca sebagai, “dulu” atau “sekarang tidak lagi”. Ya, itu dulu. Dan sekarang tidak lagi. Karena Wisnu dan beberapa orang teman sekantor telah dianggap pembangkang dan tak layak bekerja lagi di kantor itu. Dipecat. Dipecat. Sekali lagi ah. DIPECAT dengan huruf kapital dan tidak dengan hormat.
    Ini kalimat yang membanggakan yang kudengar dari mulut Wisnu waktu dia dipecat. “Sebagai karyawan sebuah media, kita bisa dipecat kapan saja dengan cara apa saja. Tapi sebagai penulis. Tak satupun makhluk hidup dimuka bumi ini yang bisa memecat kita. Hanya Tuhan yang sanggup memecat penulis. Dengan cara mencabut nyawanya.” Kuulangi. Ini adalah kalimat membanggakan. Bahwa menulis adalah pekerjaan yang tak kenal kata pensiun. Silahkan saudara menjadi atlet. Silahkan kalian menjadi Artis. Menjadi Pilot, Polisi, Dokter, Insinyur. Silahkan kamu-kamu semua menjadi Pegawai Negeri Sipil. Maka siap-siaplah kalian mendengar kata Dipecat, Potong Gaji, Pendapatan Rendah, dimarahin bos. Dan sejenisnya.  Dan apa yang terjadi ketika usia kalian menginjak angka 60 tahun? Masih bisa angkat besi, marathon, menendang bola, bertinju, aerobic? Hohoho, tulang belulangmu akan remuk redam. Jadi artis di usia 60-an? Barangkali saja masih bisa, tapi teramat sangat jarang rang rang rang. Dan kalaupun ada, huuuf, honornya kecil dan jarang-jarang jadi pemeran utama. Menerbangkan pesawat diusia tua? Bekerja di pemerintahan? Mengatur lalu lintas jalan raya, weleh weleh. Harapannya kecil sekali. Yang tersisa tinggal pensiun dan menunggu malaikat maut menjemput dan tiap bulan harus mencicil kreditan kendaraan yang dipake anak cucu. Tapi kalau kalian memutuskan menjadi seorang penulis, kata Wisnu Pamungkas, kita bisa bekerja dari rumah, dan memiliki kantor di seluruh dunia. Karena setiap media yang memuat tulisan kita adalah kantor kita. Besok meninggal dunia, hari ini masih bisa bekerja. Tak ada kata pensiun. Penulis tak akan pernah dimarahin bos. Penulis adalah mereka yang paling merdeka terhadap dirinya sendiri. Dan yang terpenting adalah, menulis itu berarti berbagi ilmu kepada siapa saja yang membaca. Jika ilmu itu bermanfaat, maka sepanjang hidup bahkan sampai meninggal dunia, manfaat itu akan bisa kita sendiri dan orang banyak rasakan. Menulislah. Sebab menulis adalah bekerja untuk keabadian.
    Pelajaran moral ketiga adalah: kalau kening kamu tidak mau ditunjuk-tunjuk sama bos yang kepalanya sulah dengan perut buncit dan mulutnya bau, hanya gara-gara kamu melakukan kesalahan kecil, maka, jadilah PENULIS.
    Setelah peluncuran buku Nol Derajat, aku dan Wisnu semakin hari semakin akrab. Warung kopi malam hari, bertukar sapa lewat sms, e-mail, adalah sesuatu yang sering kami lalui. Banyak hal yang kupelajari darinya. Karena kesibukan, kami jarang bertemu, namun ketika saatnya kami bertemu, ketika itulah Wisnu berbagi banyak kisah. Kisah yang begitu berharga. Kalau aku disuruh menuliskan nama-nama orang luar biasa yang meninggalkan kesan berharga dalam hatiku, maka salah satu nama itu adalah Alexander Mering, lelaki Dayak yang di darahnya menitis kesaktian Dewa Wisnu yang turun terakhir kali di dunia.
    Oh, tapi tentu saja lelaki ini tidak melulu memiliki karakter yang bagus. Aku merasa perlu mengingatkan para pembaca sekalian, bahwa jangan sekali-kali meminjamkan buku kepada Alexander Mering. Karena, atas nama segala macam pepohonan dan roh jahat yang bersarang dalam tubuhnya, buku yang kisanak pinjamkan kepadanya tidak akan pernah kembali. Dia akan beralasan, oh, bukumu tertinggal di Sintang waktu aku pulang kampung liburan kemarin. Atau, tenang, bukumu masih ada kok, tapi aku lupa dimana menyimpannya. Ya. Ada seribu tiga belas alasan yang akan keluar dari mulut Mering kalau kisanak menagih buku yang telah kisanak pinjamkan kepadanya. Tak akan pernah. Ini terjadi pada diriku. Suatu hari, datanglah si bodoh bale ini kepada Mering, memperlihatkan buku tulisan Pramudya Ananta Toer yang judulnya Panggil Aku Kartini Saja. Asal kalian tau, betapa aku sangat mengagumi Pramudya. Sebagai penulis fiksi, lelaki ini mampu mengibarkan semangat manusia Indonesia bahkan dunia untuk sadar akan sejarahnya. Orang yang pernah diasingkan di pulau Buru ini adalah pahlawan tanpa tawar menawar di jagad sastra nusantara. Buku-bukunya dicetak tebal-tebal. Dijual dengan harga mahal-mahal. Termasuk Panggil Aku Kartini Saja. Kubeli di Gramedia tanpa diskon, dan tanpa sempat merayu perempuan penjaga kasir. Betapa bangganya aku dengan buku satu itu. Dan ketika buku itu kupinjamkan ke Alexander Mering. Kau bunuh pun lelaki itu, mungkin buku itu tak juga mau dikembalikannya. Hmmm, memang tidak perlu dengan cara kekerasan.
    Ini adalah jurus pamungkasku, dengan menuliskan cerita ini, di buku yang sedang kalian baca ini, aku berharap, Mering juga akan membacanya. So pasti dia akan membacanya, karena ada cerita tentang dirinya. Bodoh bale siape diangkot kalok tak maok bace cerite sorang yang ditulis orang? Nah, maka dia akan terharu. Karena dia terharu, dan sampai di paragraf tentang buku Pramudya Ananta Toer yang judulnya Panggil Aku Kartini Saja, maka serta merta dirinya akan tersadar bahwa selama ini dirinya memiliki watak jahat, yakni tak pernah mau mengembalikan buku yang dipinjammnya. Hohoho, maka dia akan khilaf, insyaf, saraf, dan dengan jalan setengah membungkuk dan menunduk, dia akan menghampiriku. Memeluk erat lututku, memohon-mohon kepadaku. Supaya aku memaafkan segala macam dosanya. Kemudian Mering akan berkata, “Kisanak, maafkan aku karena telah lama meminjam bukumu. Atas nama segala macam pepohonan yang tumbuh di bumi, maka dengan ini buku berjudul Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramudya Ananta Toer, kukembalikan kepadamu,”
    Bukankah rencana ini cukup brilliant? Dan akhirnya buku ini akan kembali kepadaku. Tapi Ssssssssssssssttttt, bagi kalian yang kenal Mering, jangan cerita akal bulus ini kepadanya ya. Biarkan saja dia membaca sendiri. Karena tidak akan seru kalau diceritakan. Bukan cuma buat Mering saja, buat yang lain juga. Bagi yang sudah baca cerita ini, suruh teman-teman, saudara, keluarga, kekasih, tetangga, musuh bebuyutan, atau siapa saja, untuk membaca cerita yang ada dalam buku ini. Kalau perlu pasang iklan di koran-koran bahwa ada buku menarik yang ditulis anak daerah ini yang wajib dibaca siapa saja. Dan ingat, jangan sekali-kali kalian pinjamkan buku yang sudah kalian beli ini ke orang-orang itu. Awas, bahaya. Nanti nasib yang kualami karena telah meminjamkan buku kepada Mering akan menimpa kalian semua. Suruh mereka beli sendiri. Ya. Sekali lagi. Jangan pernah pinjamkan buku ini ke orang lain. Ceritakan saja, bahwa buku ini sangat bagus, bacanya sampai gemetaran. Nah ketika mereka mulai penasaran, suruh mereka beli sendiri.
    Pelajaran moral keempat: MEMBELI BUKU INI AKAN DIDOAKAN MASUK SURGA OLEH PENULISNYA.
    Kembali ke cerita tentang Alexander Mering, lelaki titisan Dewa Wisnu yang terakhir kalinya di muka bumi. Setelah dipecat dari koran tempat dia bekerja, lelaki ini tidak tinggal diam. Dia dan teman-teman senasib sepenanggungan punya rencana luar biasa menakjubkan. Dan benar-benar menakjubkan ketika rencana ini pada akhirnya benar-benar mampu mereka wujudkan. Dimulai dengan tantangan yang lebih bersifat menyepelekan, “Kalau kalian mampu, bikin aja koran sendiri. Kalian pikir bikin koran itu mudah?” Mendirikan sebuah perusahaan media cetak memang tidak mudah. Tapi Mering dan teman-teman bukan orang sepele. Mereka sama sekali tidak layak diremehkan. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan daerah yang dialiri sungai terpanjang di negara ini penuh warna. Penuh keberagaman. Indah dan mempesona. Alexander Mering dan teman-teman dengan idealisme jurnalist yang mereka miliki pada akhirnya mampu mendirikan sebuah perusahan media cetak daerah yang tak bisa dipandang sebelah mata di usia mereka yang benar-benar masih bayi batita (bayi di bawah tiga tahun). Nur Iskandar, teman senasib sepenanggungan Mering yang kemudian dipercaya untuk memimpin redaksi koran yang mereka dirikan.
    Tak lama setelah koran baru ini terbit, tiba-tiba Mering menghubungiku. Dia bercerita bahwa dirinya dipercaya untuk mengendarai halaman sastra yang terbit setiap hari minggu. Dan dia ingin menerbitkan cerita tentang diriku sebanyak satu halaman penuh di koran tersebut. Satu halaman penuh? Tentu saja aku terkejut dan bertanya dalam hati, apakah layak diriku untuk satu halaman penuh? Apa kapasitasku? Siapa diriku? Serta merta kecamuk pertanyaan dalam hati tersebut dipatahkan oleh Mering. Seolah-olah titisan dewa Wisnu ini dapat membaca pertanyaan-pertanyaanku, meskipun di dalam hati. Katanya, aku mampu menginspirasi mereka untuk menularkan semangat kepenulisan kepada masyarakat di Kalimantan Barat. Dan Mering mengaku, bahwa gagasan mereka berkeliling sekolah untuk menularkan ilmu jurnalistik ke para siswa itu meniru apa yang telah kulakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Cuma tools-nya yang berbeda, kalau aku memotivasi anak-anak remaja untuk menulis sastra, Mering dan kawan-kawan seperjuangan memotivasi mereka untuk menulis fakta, atau jurnalistik.
    Mengenai apa yang telah kulakukan, yakni berkeliling ke sekolah-sekolah, pada dasarnya hanya bermodalkan semangat. Bahwa kalau saja setiap anak di daerah ini mau membaca kemudian mengaplikasikan apa yang mereka baca dengan menulis, maka menjadikan daerah ini jauh lebih baik, itu lebih mudah daripada sekadar membalikkan telapak tangan. Ya. Menulislah. Maka perubahan ke arah yang lebih baik tiba-tiba saja berada di depan mata. Dan ketika gagasan kampanye baca tulis ini kemudian ditiru oleh Mering dan teman-temannya, sama sekali aku tidak pernah bersedih. Malah sebaliknya, senang sembilan belas keliling. Sukur-sukur akan ada lagi mereka yang lain yang terus mengkampanyekan persoalan baca tulis. Dan betapa senangnya diriku, karena semakin hari semakin banyak personal, lembaga, organisasi atau entah apa namanya, di Kalimantan Barat yang turun ke sekolah, mengkampanyekan kepada para siswa untuk membaca dan menulis. Sebut saja di antaranya Fredy, penulis muda harapan Kalimantan Barat di masa mendatang, dan Lentera Community, kommunitas kepenulisan yang berisi para remaja yang memiliki semangat menulis luar biasa.
    Begitulah, sehabis memotret wajahku di warung kopi di bilangan jalan Gajah Mada Pontianak, Mering memintaku memberikan data diriku. “Wawancaranya via e-mail saja ya,” katanya. Kusanggupi. Tak lama setelah itu, memang benar-benar terjadi, satu halaman penuh ada cerita tentang diriku yang ditulis Alexander Mering, dengan nama Wisnu Pamungkas. Dalam buku ini, cerita itu kutampilkan kembali. Tak hanya sebagai ucapan terima kasih tak terhingga kepada orang bersuku Batak dengan marga Simalakama, tetapi juga sebagai sebagai ikrar bersama, bahwa semangat yang tak berhenti menyala adalah hal yang paling membuat hidup ini begitu berharga.
    Terimakasih Mering, jangan lupa kembalikan bukuku ya. Kuingatkan lagi judulnya Panggil Aku Kartini Saja, yang nulis Pramudya Ananto Toer. 

    Kata Mering: "Brur, udah kubalekkan (kukembalikan) buku tu, buku burok lantok pun diribotkan, dah dibalekkan pun tak terimakasih. Awas ye kalau nagih agek, aku kutuk jadi ente jadi Kartini....hahahahaha".